Seorang gadis kecil duduk di beranda rumahnya yang kecil memainkan beberapa boneka yang ditata rapi membentuk lingkaran kecil. Suara gadis kecil itu sesekali berubah berat menyerupai suara anak laki-laki seumurannya. Rupa-rupanya dia sedang memainkan karakter boneka beruang kecil jantan yang sedang bercerita pada teman-teman hewan lainnya. Beberapa karakter boneka yang dia mainkan adalah kelinci putih kecil betina, kucing kecil persia betina, burung pelatuk kecil jantan, kuda keil jantan dan anjing puddle kecil betina. Gadis kecil itu sangat bersemangat dalam menghidupkan karakter-karakter bonekanya. Tiba-tiba saja seorang laki-laki mengagetkannya. Seorang laki-laki asing yang baru dia jumpai saat itu. Secara spontan gadis itu berlari masuk ke rumahnya sambil berteriak memanggil-manggil mamanya. Suara teriakan kecil yang lucu itu membuat laki-laki itu tersenyum kecil.
"Mama, ada orang di depan rumah kita.", gadis kecil mengadu pada mamanya.
Mama bergegas menuju beranda rumah, melihat orang yang ditakuti gadis kecilnya. Selama beberapa menit mama terlihat berbicara dengan laki-laki itu, sementara gadis kecil bersembunyi di balik pintu sambil memperhatikan pembicaraan laki-laki asing dengan mamanya. Setelah beberapa menit pembicaraan pun selesai, laki-laki asing itu tersenyum pada gadis kecil dan berbalik arah lalu pergi. Terdengar suara mama mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu.
Dengan sigap, gadis kecil membereskan boneka-boneka kesayangannya lalu mengikuti mamanya ke dalam rumah.
"Mama, siapa bapak itu?", tanya gadis kecil pada mamanya.
"Itu tukang POS, sayang.", jawab mamanya.
"Kenapa mama terima pemberian bapak itu? Padahal orang itu bukan papa.", gadis kecil itu bertanya sambil menatapwajah mamanya.
"Bapak itu mengantarkan surat untuk mama, sayang. Jadi mama harus menerimanya.", mamanya mencoba menjelaskan.
Gadis kecilpun mengajukan pertanyaan lagi pada mamanya, "Bukankah mama selalu melarangku menerima pemberian dari orang yang tidak aku kenal?".
"Betul sayang, tapi kali ini berbeda.", mama menjawab sambil tersenyum.
Mama melihat gadis kecilnya dengan raut muka bingung. Dengan segera mama menawarkan es krim kesukaan gadis kecilnya yang lucu. Tanpa banyak kata gadis kecil langsung menuju meja makan, menata boneka-bonekanya dan menantikan semangkuk es krim coklat kesukaannya.
***
Hari mulai petang, suasana di luar rumah mulai ramai dengan orang-orang yang berbincang-bincang. Gadis kecil terbangun dari tidur siangnya, bergegas turun dari ranjang empuknya sambil membawa boneka beruang kecil dalam dekapannya. Gadis manis itu berjalan ke luar kamarnya sambil mengucek matanya untuk menghilangkan rasa kantuk.
Melihat gadis kecilnya berjalan sambil menguap, dari dapur mama menghampiri sambil memeluk buah hatinya.
"Mama, papa mana?", tanyanya.
"Papa belum pulang sayang. Sekarang mandi dulu ya, biar wangi.", ajak mama pada sleeping beauty-nya.
Gadis kecil telah terlihat cantik dan wangi. Sisiran rambut yang rapi dengan hiasan bando di kepalanya membuat gadis kecil terlihat seperti putri kecil.
Sambil berlari kecil dan bernyanyi gadis kecil menuju ruang keluarga. Dia mengambil remot tv dan menyalakan channel kartun kegemarannya. Namun, sesaat pandangannya mengarah pada sebuah amplop putih yang tergeletak di atas meja. Dia terpaku memandangi amplop itu tanpa menyentuhnya. Gadis kecil mengingatnya. Amplop itu adalah barang yang diterima mama dari laki-laki asing tadi pagi. Tatapannya berubah menjadi tatapan penuh pertanyaan pada surat itu. Tatapannya menggambarkan perasaan bingung yang menghingapinya tadi pagi, kenapa mama menerima pemberian orang asing itu padahal mama selalu melarangnya menerima pemberian orang yang tidak dikenalnya.
"Mama, ada orang di depan rumah kita.", gadis kecil mengadu pada mamanya.
Mama bergegas menuju beranda rumah, melihat orang yang ditakuti gadis kecilnya. Selama beberapa menit mama terlihat berbicara dengan laki-laki itu, sementara gadis kecil bersembunyi di balik pintu sambil memperhatikan pembicaraan laki-laki asing dengan mamanya. Setelah beberapa menit pembicaraan pun selesai, laki-laki asing itu tersenyum pada gadis kecil dan berbalik arah lalu pergi. Terdengar suara mama mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu.
Dengan sigap, gadis kecil membereskan boneka-boneka kesayangannya lalu mengikuti mamanya ke dalam rumah.
"Mama, siapa bapak itu?", tanya gadis kecil pada mamanya.
"Itu tukang POS, sayang.", jawab mamanya.
"Kenapa mama terima pemberian bapak itu? Padahal orang itu bukan papa.", gadis kecil itu bertanya sambil menatapwajah mamanya.
"Bapak itu mengantarkan surat untuk mama, sayang. Jadi mama harus menerimanya.", mamanya mencoba menjelaskan.
Gadis kecilpun mengajukan pertanyaan lagi pada mamanya, "Bukankah mama selalu melarangku menerima pemberian dari orang yang tidak aku kenal?".
"Betul sayang, tapi kali ini berbeda.", mama menjawab sambil tersenyum.
Mama melihat gadis kecilnya dengan raut muka bingung. Dengan segera mama menawarkan es krim kesukaan gadis kecilnya yang lucu. Tanpa banyak kata gadis kecil langsung menuju meja makan, menata boneka-bonekanya dan menantikan semangkuk es krim coklat kesukaannya.
***
Hari mulai petang, suasana di luar rumah mulai ramai dengan orang-orang yang berbincang-bincang. Gadis kecil terbangun dari tidur siangnya, bergegas turun dari ranjang empuknya sambil membawa boneka beruang kecil dalam dekapannya. Gadis manis itu berjalan ke luar kamarnya sambil mengucek matanya untuk menghilangkan rasa kantuk.
Melihat gadis kecilnya berjalan sambil menguap, dari dapur mama menghampiri sambil memeluk buah hatinya.
"Mama, papa mana?", tanyanya.
"Papa belum pulang sayang. Sekarang mandi dulu ya, biar wangi.", ajak mama pada sleeping beauty-nya.
Gadis kecil telah terlihat cantik dan wangi. Sisiran rambut yang rapi dengan hiasan bando di kepalanya membuat gadis kecil terlihat seperti putri kecil.
Sambil berlari kecil dan bernyanyi gadis kecil menuju ruang keluarga. Dia mengambil remot tv dan menyalakan channel kartun kegemarannya. Namun, sesaat pandangannya mengarah pada sebuah amplop putih yang tergeletak di atas meja. Dia terpaku memandangi amplop itu tanpa menyentuhnya. Gadis kecil mengingatnya. Amplop itu adalah barang yang diterima mama dari laki-laki asing tadi pagi. Tatapannya berubah menjadi tatapan penuh pertanyaan pada surat itu. Tatapannya menggambarkan perasaan bingung yang menghingapinya tadi pagi, kenapa mama menerima pemberian orang asing itu padahal mama selalu melarangnya menerima pemberian orang yang tidak dikenalnya.